Mungkin ini entri kedua saya untuk dia selepas entri Doa dari anakmu. Bukan tak mahu mencoretkan sesuatu untuk dia. Tapi saya lemah tiap kali ingatkan dirinya. Lemah bila mengingatkan betapa kuatnya dia. Bila saya lemah sudah pastinya saya menangis. Oleh itu, saya mencuba untuk menyembunyikan segala perasaan saya pada dia.
Saya banyak belajar dari dia. Semua tentang kehidupan. Dialah tempat saya meluahkan segalanya. Dibahu dialah saya pernah menangis bersama. Tangan dialah yang selalu menggosok bahu dan pegang tangan saya sekuatnya ketika saya lemah suatu masa dulu. Disaat semua orang lari meninggalkan saya. Tiada siapa lagi di sisi saya selain Allah dan dia. Dia yang sentiasa meniupkan kata-kata semangat ditelinga saya & menyambut diri saya tiap kali saya jatuh tersungkur. Jadi, bagaimana saya mampu menyembunyikan betapa sayangnya saya pada dia?
..................................................
Abah pernah bertanya macamana ciri-ciri lelaki idaman kami adik beradik.
Ringkas jawapan kami: Macam abah!
Salah seorang dari kami bertanya: Boleh tak, nak kawin dengan abah jea?
..................................................
Sehingga saya pernah terfikir dan berkata:
“ Sometimes I hate with my love at first sight
Because the first person i fall in love is another woman’s husband, my father ”
Abah, mungkin orang lain tak mengerti betapa uniknya kasih sayang kita, sebab hanya hati kita yang merasa!
Try watching pictures of you and your dad, and play this song as the background.
I'd be surprised if you don't even feel like shedding a tear. Because I do!
Kasih, kenanganku
Ingatkah saat saat dulu
Kasih, apakah dirimu
Merasakan semua itu
Ke mana pun langkahku pergi
Ku masih melihat bayanganmu cintaku
Dan kemana pun arah anginku berlari
Hati ini masih kau miliki
Lelaki itu yang selalu mencintamu
Selalu, tanpa ragu
Lelaki itu yang selalu memuja
Hanya dirimu
Yang bertakhta dalam sanubariku
Sanubari ku
Aku yang mencintakan mu
Hanya dirimu
Karena cintaku, tak berbatas waktu
Karena cintaku, tak mengenal jenuh hatimu
(*saya ubah lelaki ini kepada lelaki itu*)
Jadi rasanya tak menjadi satu kesalahan saya membayangkan lelaki itu adalah abah saya. Walaupun kita mungkin mempunyai persepsi yang berbeza tentang lagu ini. Bukankah kasih sayang itu luas, terserah pada kita cara untuk menyampaikannya.
Saya juga suka tujukan lagu Di Pondok Kecil untuk abah. Tapi saya tak mahu dengar lagu itu sekarang. Pasti banyak air mata saya dikeluarkan lagi. Abah pesan: Simpan air mata untuk hari tua!
Lastly:
Thanks abah for your unconditional love for us. Time will never dim our love. You will be always in my dua and I wish our love everlasting until Hereafter and Insya Allah until Jannah.
Thank you Allah for the precious person You lend me. Because of that, I couldn’t ask for much better person.
You are an awesome man I ever meet!
Cukuplah dengan abah seorang, kak ngah dah rasa sejuta rahmat dari Allah!
Selamat Hari Lahir Abah!


